Penantian Garis Dua
Kala itu, usia pernikahan kami telah menginjak tahun ketiga. Kami tidak pernah ingin menunda dalam memiliki anak, namun Qadarullah kami tak kunjung diamanahi buah hati juga.
Berbagai cara telah kami lakukan sebagai ikhtiar, walaupun belum serius-serius amat. Bukan karena kami belum mau punya anak (Jujur, sebelum tau kapan dan sama siapa aku akan menikah, aku sudah lebih dulu memikirkan tentang anakku). Tapi lebih kepada, karena kami percaya, jika memang sudah waktunya, Allah pasti berikan tanpa kami meminta. Perihal apapun, bukankah selalu seperti itu?
Namun memasuki tahun ketiga ini aku mulai berpikir lebih dalam. Berkat kerinduan yang juga semakin dalam (Fatih, jika kamu baca ini saat besar nanti, kamu tau kan, pada siapa ibu merindu? Iya, kamu, sulung ibu, yang ibu rindu bahkan sebelum kamu ada di rahim ibu. Oh, mungkin bahkan sebelum ibu tau, siapa bapakmu.),
"Udah lama juga yaa nikah, belum garis dua. Apa Allah mau liat keseriusan usahaku dulu, ya? Rasanya selama ini usahaku gak pernah istiqomah." pikirku.
Setelahnya, akupun berdiskusi dengan suamiku dan memutuskan dari mana kami akan memulai ikhtiar kami.
Sebenarnya, di tahun pertama kami pernah mengunjungi seorang dokter spesial obgyn. Saat itu dokter melakukan USG pada rahimku dan tidak ditemukan hal-hal yang aneh. Maka dokter memberikan kami surat pengantar untuk melakukan tes-tes lainnya.
Dokterpun memberikan kami 3 surat pengantar. Surat pertama adalah tes HSG untukku, surat kedua dan ketiga adalah pengantar medical check up untukku dan suami, termasuk cek sperma pada surat pengantar suami.
Namun, karena saat itu usia pernikahan kami masih seumur jagung, kami putuskan untuk menunda melakukan tes-tes yang di sarankan.
"Alhamdulillah yang penting rahimnya sehat.", pikir kami kala itu.
Surat pengantar itu masih kami simpan, jadi ketika kami berdiskusi harus memulai lagi ikhtiar darimana, kami lantas membuka surat itu.
"Ini dulu aja kali yaa, cek HSG", kataku kepada suamiku. "Biar bisa segera di tindak kalau memang ada apa2.", suamikupun mengiyakan.
Bersambung...
Muntok, 22 Januari 2020
TY
Berbagai cara telah kami lakukan sebagai ikhtiar, walaupun belum serius-serius amat. Bukan karena kami belum mau punya anak (Jujur, sebelum tau kapan dan sama siapa aku akan menikah, aku sudah lebih dulu memikirkan tentang anakku). Tapi lebih kepada, karena kami percaya, jika memang sudah waktunya, Allah pasti berikan tanpa kami meminta. Perihal apapun, bukankah selalu seperti itu?
Namun memasuki tahun ketiga ini aku mulai berpikir lebih dalam. Berkat kerinduan yang juga semakin dalam (Fatih, jika kamu baca ini saat besar nanti, kamu tau kan, pada siapa ibu merindu? Iya, kamu, sulung ibu, yang ibu rindu bahkan sebelum kamu ada di rahim ibu. Oh, mungkin bahkan sebelum ibu tau, siapa bapakmu.),
"Udah lama juga yaa nikah, belum garis dua. Apa Allah mau liat keseriusan usahaku dulu, ya? Rasanya selama ini usahaku gak pernah istiqomah." pikirku.
Setelahnya, akupun berdiskusi dengan suamiku dan memutuskan dari mana kami akan memulai ikhtiar kami.
Sebenarnya, di tahun pertama kami pernah mengunjungi seorang dokter spesial obgyn. Saat itu dokter melakukan USG pada rahimku dan tidak ditemukan hal-hal yang aneh. Maka dokter memberikan kami surat pengantar untuk melakukan tes-tes lainnya.
Dokterpun memberikan kami 3 surat pengantar. Surat pertama adalah tes HSG untukku, surat kedua dan ketiga adalah pengantar medical check up untukku dan suami, termasuk cek sperma pada surat pengantar suami.
Namun, karena saat itu usia pernikahan kami masih seumur jagung, kami putuskan untuk menunda melakukan tes-tes yang di sarankan.
"Alhamdulillah yang penting rahimnya sehat.", pikir kami kala itu.
Surat pengantar itu masih kami simpan, jadi ketika kami berdiskusi harus memulai lagi ikhtiar darimana, kami lantas membuka surat itu.
"Ini dulu aja kali yaa, cek HSG", kataku kepada suamiku. "Biar bisa segera di tindak kalau memang ada apa2.", suamikupun mengiyakan.
Bersambung...
Muntok, 22 Januari 2020
TY
Komentar
Posting Komentar